Wednesday, July 21, 2010

Sumo Tikus

Dahulu kala ada hiduplah sepasang kakek dan nenek yang miskin. Pada suatu hari, ketika kakek sedang dalam perjalanan pulang dari mencari kayu bakar di atas bukit, terdengarlah suara dari balik semak-semak, "Ayo..ayo maju". Karena penasaran, kakek mendekati semak-semak itu dan mencoba mengintip apa sebenarnya yang sedang terjadi. Ternyata dibalik semak-semak tersebut terdapat dua ekor tikus yang sedang bertanding sumo. Seekor tikus besar yang berasal dari rumah saudagar kaya di desanya dan seekor tikus kecil yang berasal dari rumahnya. 

"Ayo maju" kata tikus besar yang kemudian meraih kedua lengan tikus kecil, mengangkatnya lalu membantingnya ke tanah. "Gedebug!" Beberapa kali badan tikus yang berbadan kecil itu terbanting ke tanah. Berapa pun ia melawan karena badan lawannya lebih besar maka ia pun tidak pernah menang dalam pertandingan itu. Akhirnya kedua tikus itu pun berpisah, dan besok berianji akan kembali bertanding lagi.
"Kasihan, tikus itu. Karena dirumah tidak banyak makanan, maka badannya pun tidak gemuk-gemuk" Kata sang kakek dalam hati.

Sepulangnya ke rumah, kakek menceritakannya kejadian yang baru dilihatnya di atas bukit tadi kepada nenek. "Nenek, mungkin lebih baik kita buatkan kue mochi untuk tikus di rumah kita agar ia menjadi kuat" kata kakek. Segera diambilnya simpanan beras yang tadinya untuk membuat kue mochi2 di tahun baru. Simpanan beras yang tinggal sedikit itu semua dipakai untuk membuat kue mochi. Tidak beberapa lama kemudian, kue mochi pun jadi dan semuanya diberikan kepada tikus di rumahnya. Sang tikus pun dengan penuh sukacita memakan kue buatan nenek itu.  

 *Mochi adalah kue atau makanan yang terbuat dari sejenis beras ketan yang ditumbuk halus.

Keesokan harinya, pada waktu yang sama dengan kemarin kakek mencoba mengintip pertandingan sumo dari balik semak-semak. "Ayo maju" teriak Si Tikus gendut. Perlahan-lahan si tikus gendut mendekati si tikus kecil dan mencoba mengangkatnya. Tetapi berapa pun kuat ia mengangkat si tikus kecil, ia tetap tak bisa. Sekarang giliran tikus kecil yang memegang lengan tikus gendut, dan Oops.. tikus gendut pun berhasil dibanting dari arah samping olehnya. "Hah, kenapa hanya dalam waktu semalam kamu menjadi begitu kuat ?" tanya tikus gendut keheranan. 

"Kakek dan Nenek membuatkan aku kue mochi jadinya aku bertambah kuat" jawab tikus kecil. "Wah, enak sekali kamu. Kalau begitu boleh dong aku datang ke rumah kamu untuk makan kue mochi bersama" kata tikus gendut dengan nada merayu.

"Sayang sekali. Tepung beras nenek sudah habis. Jadinya sampai tahun baru pun sepertinya tidak akan bisa makan kue mochi lagi" kata tikus kecil. 

"Aduh, kasihan sekali kamu. Tapi, sebentar, aku tahu tempat penyimpanan tepung beras pembuat kue mochi. Malam ini datanglah ke rumahku" kata tikus gendut. Akhirnya mereka berpisah. Dan malam itu, tikus kecil pergi ke rumah tikus gendut. Mereka akhirnya pergi ke gudang tempat penyimpanan tepung beras milik saudagar kaya di desa itu. Diambilnya satu karung kecil tepung beras dan digotong bersama menuju rumah kakek dan nenek. Esok paginya kakek dan nenek sangat terkejut melihat sekantong tepung beras di dapur mereka. Mereka sangat bersuka cita. Sejak saat itu nenek pun membuatkan kue mochi yang lezat untuk tikus-tikus kesayangannya itu.    

Cerita di atas berjudul asli Nezumi no Sumo (Sumo Tikus) yang berasal dari Yamagata. Kisah persahabatan antara tikus dari rumah orang kaya dan tikus dari rumah orang miskin tersebut memberikan inspirasi bagi kita untuk tidak memandang harta ataupun kekayaan dalam menjalin persahabatan. 

Ootoshi no Hi (Api Tahun Baru)

Ootoshi no Hi
(Api Tahun Baru)
                                                                                                                                     

Pada zaman dahulu kala di sebuah rumah kecil di sebuah desa hiduplah seorang ibu mertua dan menantu perempuannya. Menantunya tersebut adalah seorang perempuan yang rajin bekerja dan selalu mematuhi perkataan sang ibu mertua.
Suatu malam menjelang tahun baru, ibu mertua berpesan kepada menantunya agar menjaga api di tungku agar tetap menyala sepanjang tahun baru. Setelah itu, ibu mertua pergi tidur lebih dulu. Menjelang tengah malam, menantunya yang berbaring di dekat tungku perapian terbangun. Ia mendapati api di tungku telah padam. Ia menjadi gugup, lalu segera pergi ke gudang untuk mengambil kayu bakar. Namun, ternyata di gudang juga tidak terdapat kayu bakar lagi. Saat itu adalah musim dingin. Suhu udara di luar rumah sangat dingin. Namun karena ia harus segera mendapatkan kayu bakar dan api, maka ia pun segera pergi ke luar rumah untuk mencari ranting dan dahan kayu kering.

Kaguya-Hime (Putri Kaguya)

Kaguya-Hime
(Putri Kaguya)

Pada jaman dahulu kala hiduplah sepasang kakek nenek di sebauh desa terpencil. Pekerjaan sang kakek sehari-hari adalah sebagai penebang bambu di hutan. Bambu tersebut dibuatnya menjadi berbagai barang kerajinan tangan, dan orang-orang menyebutnya Kakek Pengambil Bambu. Pada suatu hari, ketika sang kakek masuk ke hutan bambu, ia melihat sebatang bambu yang pangkalnya bercahaya seperti emas. Karena penasaran, maka sang kakek memotong bambu tersebut. Keluarlah dari dalam batang bambu, seorang anak perempuan yang mungil, tingginya kira-kira sekitar 9 cm tapi manis dan lucu.

Sang kakek kemudian membawa anak perempuan itu pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah, kakek memberi tahu nenek tentang anak perempuan yang ia temukan pada saat sedang memotong bambu. Anak itu dibesarkannya seperti anak sendiri, mereka akhirnya memberi nama anak itu Kaguya. Sejak itu, setiap kakek pergi ke gunung untuk menebang bambu, di dalam batang bambu tersebut pasti selalu ditemukan emas. Kakek dan nenek menjadi kaya, kehidupan merekapun menjadi makmur berkat kehadiran Kaguya. Dalam 3 bulan, anak perempuan yang dibesarkan tumbuh menjadi seorang putri yang sangat cantik. Kecantikan putri ini sulit ditandingi, begitu cantiknya sehingga perlu diberi nama yang sangat istimewa. Orang-orang menyebutnya Putri Kaguya (Nayotake no kaguya hime).

Inamura no Hi (Api Dari Tumpukan Padi)

Inamura no Hi
(Api Dari Tumpukan Padi)

Kata “tsunami” berasal dari bahasa Jepang. Kata “tsu” berarti pelabuhan, “nami” berarti ombak. Jadi, arti keseluruhan dari “tsunami” adalah ombak yang ganas dan besar seperti raksasa yang melanda di pelabuhan, namun di tengah laut ombak itu tidak begitu besar dan tidak ganas.
Pada umumnya, tsunami timbul akibat adanya gempa bumi yang terjadi di dasar laut. Jepang sering dilanda tsunami. Jadi, sejak dahulu kala, penduduk yang menetap di daerah yang rawan akan tsunami telah mewariskan cerita yang memberikan pelajaran tentang bagaimana menyelamatkan diri dari tsunami. Kamishibai yang dikenalkan di sini, “Inamura no Hi” juga berbasis atas cerita nyata yang terjadi di daerah Wakayama pada tahun 1854.
Terjadinya gempa dan tsunami mungkin sudah menjadi suratan takdir dari Tuhan, akan tetapi, kita sebagai manusia harus berusaha mengantisipasinya supaya tidak menimbulkan banyak korban yang berjatuhan akibat bencana-bencana alam tersebut dan hal ini menjadi tanggung jawab dari pemerintah dan penduduk itu sendiri. Sampai sekarang, manusia masih tidak bisa mencegah terjadinya gempa dan tsunami, namun manusia bisa mencegah untuk tidak menimbulkan banyak korban yang berjatuhan. Bencana-bencana alam tersebut telah melanda di seluruh dunia baik di negara berkembang maupun di negara maju dengan frekuensi yang sama. Namun, korban jiwa di negara berkembang jauh lebih banyak daripada di negara maju. Negara berkembang seperti Indonesia, sistem detektor tsunami masih belum lengkap. Di sekolah dasar Jepang, secara periodik diadakan latihan menyelamatkan diri dari bencana-bencana alam. Tetapi di Indonesia belum ada latihan seperti itu. Oleh karena itu di Indonesia, bagi penduduk yang menetap di daerah rawan tsunami harus menjaga dirinya sendiri. Yang penting, jika merasa ada gempa, harus menjauhi dari pantai secepat mungkin, dan naik bukit atau gedung yang kokoh di lantai 2 atau lebih. Kalau Anda berada di dekat tepi sungai, harus segera melarikan diri, karena ada kemungkinan ombak naik melalui sungai.
Manusia mempunyai akal budi maka kita seharusnya menggunakannya agar kita dapat menjaga diri sehingga bisa tehindar dari bencana-bencana alam. Anda harus mencari informasi yang rasional untuk menyelamatkan diri dan keluarga Anda dari bencana-bencana alam tersebut. Jangan percaya isu yang tidak masuk akal dan tidak bertanggung jawab.


Tuesday, July 20, 2010

Festival Tanabata (Tanabata Matsuri)

Festival Tanabata

Bulan ketujuh (sichigatsu) merupakan salah satu bulan yang paling berkesan di dalam kebudayaan Jepang. Setiap tanggal 7 bulan 7 masyarakat Jepang selalu memperingati hari tersebut sebagai Festival Tanabata. Kertas kecil warna-warni berisi berbagai macam permohonan digantungkan di ranting pohon bambu dengan harapan agar permohonan tersebut dapat terkabulkan. Semangat Tanabata ini tetap terjaga sampai saat ini, dan sering disertakan di setiap Japan matsuri (festival kebudayaan Jepang).
Pada zaman dahulu, di sebuah desa kecil hiduplah seorang pemuda miskin. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya pemuda tersebut menjual gerabah. Setiap hari ia berjalan dari kampung ke kampung untuk menawarkan gerabah buatannya. “Gerabah… gerabah…!!!” teriaknya setiap hari. Meskipun sangat berat dan melelahkan tetapi sang pemuda selalu riang gembira menawarkan barang dagangannya.
Pada suatu hari yang panas, sang pemuda berjalan menyusuri tepi sebuah danau yang jernih. “Ah, hari ini melelahkan sekali” katanya sambil meletakkan bakulnya di tepi danau tersebut dan mengusap peluh yang menetes di dahinya. Sang pemuda membasuh muka dan minum beberapa tangkup air yang diambil dengan tangannya. “Ah, segarnya…” katanya dengan senang.
Sang pemuda hendak melanjutkan perjalanan ketika sayup-sayup terdengar suara perempuan yang sedang bercanda ria dari arah danau. “Suara siapa ya?” tanyanya dalam hati. Dengan penuh konsentrasi dia coba tajamkan pendengarannya serta dipicingkannya matanya untuk mencari sumber suara tersebut. Ternyata suara tersebut memang berasal dari beberapa wanita yang sedang mandi di tepi danau. Melihat wanita cantik yang sedang mandi itu, hati sang pemuda menjadi berdebar-debar karena malu. Ketika ia sedang mencari tempat persembunyian agar tidak terlihat oleh para wanita itu, ia melihat beberapa helai pakaian yang sangat halus dan indah warnanya. Mungkin itu adalah pakaian para wanita yang sedang mandi. Akhirnya timbullah pikiran jahat sang pemuda untuk mengambil sebuah pakaian mereka. Lalu pakaian itu disembunyikannya dalam bakulnya. Sang pemuda lalu pergi menjauh dari tempat itu.